Kabupaten Sumenep
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kabupaten Sumenep
Songènèb
كَبُڤَتَينْ سَوڠٚنٚبْ |
| Pulau Madura > Jawa Timur |

Searah jarum jam, tiga bangunan bersejarah di Sumenep : Masjid Jamik, Asta Tinggi dan Keraton |
[[Berkas:Lambang Kabupaten Sumenep.png Sumenep.png|100px|Lambang resmi Kabupaten Sumenep]]
Lambang |
|
| Julukan: Bumi Sumekar |
| Semboyan: Sumekar akronim dari: Sumenep Karaton (Bahasa Jawa : berbunga) |

Peta Kabupaten Sumenep |
|
Letak Kabupaten Sumenep di Pulau Madura
|
Koordinat: 7°1′27,3″LU 113°53′24,74″BT |
| Negara |
Indonesia |
| Provinsi |
Jawa Timur |
| Hari jadi |
31 Oktober 1269 |
| Pemerintahan |
| • Bupati |
Drs. KH. A. Busyro Karim, M.Si |
| • Wakil Bupati |
Achmad Fauzi |
| Luas |
| • Total |
2,093.457.573 km2 (808.288.488 sq mi) |
| Ketinggian |
3,05 m (10,00 ft) |
| Populasi |
| • Total |
1,041,915 jiwa |
| Demografi |
| • Agama |
Islam,Kristen,Katolik,Khong Hu Chu, Hindu, Budha. |
| • Bahasa |
Bahasa Madura, Bahasa Indonesia |
| Zona waktu |
WIB (UTC+7) |
| Kode pos |
69412 |
| Kode wilayah |
(+62) 0328 |
| Plat kendaraan |
M |
| Situs web |
www.sumenep.go.id |
| Kabupaten
ini tercatat sebagai kabupaten penghasil migas terbesar di Madura. Saat
ini tercatat, setidaknya ada 8 perusahaan MIGAS yang melakukan
eksploitasi dan 2 perusahaan yang masih melakukan eksplorasi. Daerah ini
juga termasuk kedalam 50 darah terkaya di Indonesia menurut majalah
warta Ekonomi tahun 2012 dengan urutan ke 31 dengan indeks total 36[1]. |
Kabupaten Sumenep (
bahasa Madura:
Songènèb/سَوڠٚنٚبْ) adalah sebuah
kabupaten di provinsi
Jawa Timur,
Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi 1.041.915 jiwa. Ibu kotanya ialah
Kota Sumenep.
Nama
Songènèb sendiri dalam arti etimologinya merupakan
Bahasa Kawi / Jawa Kuno yang jika diterjemaahkan mempunyai makna sebagai berikut :
- Kata “Sung” mempunyai arti sebuah relung/cekungan/lembah, dan
- kata “ènèb” yang berarti endapan yang tenang,
maka jika diartikan lebih dalam lagi Songènèb / Songennep (dalam bahasa Madura) mempunyai arti "lembah/cekungan yang tenang".
Penyebutan Kata Songènèb sendiri sebenarnya sudah popular sejak
Kerajaan Singhasari sudah berkuasa atas tanah Jawa, Madura dan
Sekitarnya, seperti yang telah disebutkan dalam kitab Pararaton tentang
penyebutan daerah "Sumenep" pada saat sang Prabu Kertanegara
mendinohaken (menyingkirkan)
Arya Wiraraja (penasehat kerajaan dalam bidang politik dan pemerintahan) ke Wilayah Sumenep, Madura Timur pada tahun 1269 M
'
“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak
Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira,
dinohaksen, kinun adipati ring Sungeneb, anger ing Madura wetan”.'
Yang artinya:
“Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama
Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya,
dijauhkan disuruh menjadi
adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura timur.”
Sejarah
Era Pra Kolonial
Pada Era Kerajaan
Singhasari, daerah Sumenep dipimpin oleh seorang Adipati yang juga menjadi dalang pembangunan Kerajaan
Majapahit, yaitu Arya Wiraraja. Dituliskan dalam berbagai kitab dan prasasti, salah satunya dalam kitab pararaton, bahwa
Arya Wiraraja tidak dipercaya lagi oleh Raja
Wisnuwardhana dan dinohaken (dijauhkan) ke Sumenep, Madura timur tepat pada tanggal 31 Oktober 1269 Masehi.
“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide,
Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen,
kinun adipati ring Sungennep, anger ing madura wetan”.
Yang artinya: Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di
Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya
tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat
tinggal di Madura sebelah timur. Disebutkan bahwa Wisnuwardhana
meninggal tahun 1268, disini disebutkan Arya Wiraraja ditempatkan di
Sumenep pada 31 Oktober 1269
Era Kolonial
Kolam penguapan Sumenep garam, sekitar tahun 1895-1908
Menurut buku "Tjareta Naghara Songenep", Pemerintahan Kompeni atau
VOC datang ke wilayah Sumenep pada kurun pemerintahan Raden Bugan (
Kanjeng Pangeran Ario Yudanegara ) yang memerintah pada tahun 1648-1672, yang merupakan salah seorang sahabat dari
Pangeran Trunojoyo.
Setelah perjuangan Trunojoyo dapat dipatahkan oleh kompeni, maka
Wilayah Pamekasan dan Sumenep kemudian takluk kepada kekuasaan Kompeni.
Bahkan sepeninggal Kanjeng Tumenggung Ario Yudonegoro,
Kompeni ikut campur menentukan tampuk pemerintahan di Sumenep.
Pada tahun 1704 Pangeran Cakraningrat meninggal, di
Mataram terjadi peristiwa penandatanganan perjanjian antara
Pangeran Puger dengan
Kompeni, bahwa Kompeni mengakui kekuasaan Pangeran Puger yang saat itu sedang berselisih dengan Sunan Mas (Amangkurat III) atas
Kesultanan Mataram di
Plered. Sebaliknya
Pangeran Puger
berkewajiban menyerahkan sebagian dari tanah Jawa dan Madura bagian
Timur kepada Kompeni. Dengan demikian untuk yang kedua kalinya Sumenep
jatuh ke tangan Kompeni, hal tersebut terjadi dalam perjanjian antara
Susunuhan Kerajaan Mataram dengan Kompeni pada tanggal pada tanggal 5
Oktober 1705. Adapun pernyataan tersebut ialah:
"Paduka yang Mahamulia Susuhunan dengan ini menyerahkan secara syah
kepada Kompeni untuk melindungi daerah-daerah Sumenep dan Pamekasan….
secara yang sama seperti dilakukan oleh Bupati yang terdahulu waktu
menyerahkan daerahnya kepada Kompeni….”
(Resink, 1984: 252). Pada saat perjanjian tersebut daerah Sumenep berada di bawah masa pemerintahan Panembahan Romo (Cokronegoro II).
Pada masa pemerintahan
Kanjeng R. Tumenggung Ario Cokronegoro IV
(1744-1749) terjadi pemberontakan yang dipimpin Ke' Lesap dari
Bangkalan. Pada saat itu Ke Lesap menggalang kekuatan rakyat yang sudah
membenci pemerintahan Kompeni. Ia berjuang dari Timur dengan cara
menguasai Keraton Sumenep. Ke Lesap memerintah Sumenep hanya dalam waktu
1 tahun yaitu tahun 1749-1750. Pemerintahan berikutnya dipegang oleh
Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtonegoro (1750-1762) keturunan dari
Kanjeng Pangeran Ario Yudanegara
yang kemudian menikah dengan seorang ulama bernama Bendoro Saud. Dia
kemudian oleh Kompeni dinobatkan sebagai Adipati Sumenep dengan gelarnya
Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro.
Pengangkatan atau penobatan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro oleh
Kompeni Belanda sebagai adipati Sumenep terjadi pada kurun pemerintahan
R. A Rasmana Tirtonegoro (1750-1762), ini berarti terjadi dualisme
kepemimpinan pada masa itu. Sedangkan setelah tahun 1762, kepemimpinan
Sumenep diteruskan oleh Raden Asiruddin (Panembahan Somala) putra
Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro.
Raden Asirudin adalah Adipati Sumenep XXXI. Dia adalah putra
Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro
dan Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtonegoro, atas permintaan kedua
orangtuanya, dia oleh Kompeni dikabulkan dan diangkat menjadi Adipati
Sumenep menggantikan ayahnya. Dia memerintah pada tahun 1762-1811 dengan
gelar Pangeran Natakusuma I kemudian berganti menjadi Tumenggung Ario
Notokusumo dan kemudian dikenal dengan sebutan
Panembahan Somala dia juga dikenal dengan Sultan Sumenep I. Selain itu dia juga pendiri
Keraton Sumenep,
Masjid Jamik Sumenep dan
Asta Tinggi.
Selanjutnya setelah dia mangkat, yang menggantikannya adalah putranya
yang bernama Kanjeng Pangeran Ario Kusumadiningrat namun setelah
beberapa bulan menjadi Adipati kemudian dia dipindah ke Pasuruan oleh
Pemerintah Hindia Belanda dan sebagai penggantinya adalah Kanjeng R.
Tumenggung Abdurraman Tirtadiningrat (
saudara Kanjeng Pangeran Ario Kusumadiningrat) kemudian dinaikkan tahtanya menjadi Panembahan Natakusuma II dan selanjutnya dinaikan lagi tahtanya menjadi
Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.
Sebutan sultan biasanya digunakan untuk gelar penguasa sebuah
kesultanan. Maka sebutan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, ini
menunjukkan bukti bahwa Sumenep pada masa itu berbentuk kesultanan.
Sebutan sultan juga terjadi atau tersandang pada Kanjeng Tumenggung Ario
Tirtonegoro, ini juga bukti bahwa Sumenep pada masa itu berbentuk
kesultanan.
Selama Sumenep jatuh kedalam wilayah pemerintahan VOC sampai
pemerintahan Kolonial Belanda, Wilayah Sumenep tidak diperintah secara
langsung, dan hal ini tentunya berbeda dengan wilayah lainnya di wilayah
Hindia Belanda, Para Penguasa Sumenep diberi kebebasan dalam memerintah
wilayahnya namun tetap dalam ikatan-ikatan kontrak yang telah
ditetapkan oleh Kolonial Kala itu. Selanjutnya pada tahun 1883,
Pemerintah Hindia Belanda mulai menghapus sistem sebelumnya (
keswaprajaan), Kerajaan-kerajaan di Madura termasuk di Sumenep dikelola langsung oleh
Nederland Indische Regening.
Pada saat periode pemerintahan Kanjeng Pangeran Ario Pakunataningrat
II yang memerintah pada tahun 1879-1901 pemerintahan kolonial mulai
membangun berbagai fasilitas-fasilitas di Sumenep seiring dengan di
berlakukannya
politik etis pada saat itu, maka Pemerintah Hindia - Belanda di Sumenep, membangun beberapa fasilitas, di antaranya :
- Pembangunan DAM/Irigasi di Sungai Kebon Agung
- Pembangunan HIS Soemenep
- Pembangunan fasilitas transportasi
- Pembangunan Pabrik Garam Briket Modern di Kecamatan Kalianget.
Kemerdekaan
Pada
saat Perang Kemerdekaan, para pejuang Sumenep juga gigih mempertahankan
kemerdekaan, sehingga pada tanggal 11 November 1947 terjadi pertempuran
yang sangat tragis, dimana pada saat itu Kota Sumenep diserang oleh
lima pesawat udara dari empat jurusan. pada saat itu, Belanda berhasil
menguasai daerah pertahanan terakhir di Pulau Madura, yakni Sumenep. dan
pada saat itu juga, praktis pemerintahan di Madura yang berpusat Kota
Pamekasan dipindahkan ke desa Lanjuk, Manding, Sumenep.
Pemerintahan
Sumenep terletak di ujung timur
Pulau Madura, provinsi
Jawa Timur. Sebelum tergabung dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Sumenep diperintah oleh
Adipati (
Rato atau Raja dalam konteks masyarakat lokal Madura ) di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri di Pulau Jawa. Adipati pertama di Sumenep adalah
Arya Wiraraja, dia memerintah pada tahun 1269 diangkat oleh Prabu Kertanegara Raja
Singhasari.
Pemerintahan kerajaan di Sumenep berakhir secara resmi pada tahun 1883
dengan diangkatnya Pangeran Pakunataningrat bergelar Kanjeng Pangeran
Ario Mangkudiningrat sebagai Bupati Sumenep akibat dampak dihapuskannya
sistem keswaprajaan di Sumenep oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada saat
itu pula, wilayah kabupaten Sumenep di bawah pemerintahan langsung
Nederland Indische Regening, sehingga Sumenep lebih dikenal dengan sebutan
regent.
Namun Perlu diketahui, dari tahun 1883 - 1929 para Bupati yang diangkat
oleh pemerintah Hindia Belanda tetap dari keturunan bangsawan dalem
Keraton Sumenep.
Kepala Daerah
Untuk daftar Bupati dari tahun 1929 - Sekarang, selengkapnya bisa dilihat di artikel ini :
Daftar Bupati Sumenep
Daftar Adipati (Rato/Raja dalam konteks lokal Madura) di Sumenep[2]
| 1 |
Arya Wiraraja (Aria Banyak Wide) |
Batu Putih |
1269 - 1292 |
| 2 |
Arya Wiraraja II (Aria Bangah) |
Banasare |
1292 - 1301 |
| 3 |
Arya Lembu Suranggana Danurwenda (Lembu Suranggana) |
Aeng Anyar |
1301 - 1311 |
| 4 |
Arya Araspati |
|
1311 - 1319 |
| 5 |
Panembahan Joharsari |
Bluto |
1319 - 1331 |
| 6 |
Panembahan Mandaraga (Raden Piturut) |
Keles |
1331 - 1339 |
| 7 |
Pangeran Natapraja |
Bukabu |
1339 - 1348 |
| 8 |
Pangeran Nataningrat |
Baragung |
1348 - 1358 |
| 9 |
Pangeran Secadiningrat I (Raden Agung Rawit) |
Banasare |
1358 - 1366 |
| 10 |
Pangeran Secadiningrat II (Raden Tumenggung Gajah Pramada) |
|
1366 - 1386 |
| 11 |
Arya Pulang Jiwa (Panembahan Blingi) |
Blingi, Poday |
1386 - 1399 |
| 12 |
Arya Baribin (Pangeran Adipoday) |
Nyamplong, Poday |
1399 - 1415 |
| 13 |
Pangeran Secadiningrat III (Arya Kudapanole Jokotole) |
Banasare, Lapataman |
1415 - 1460 |
| 14 |
Pangeran Secadiningrat IV (Raden Wigonando) |
Gapura |
1460 - 1502 |
| 15 |
Pangeran Secadiningrat V (Pangeran Siding Puri) |
Parsanga |
1502 - 1559 |
| 16l |
Raden Tumenenggung Ario Kanduruan |
Karang Sabu |
1559 - 1562 |
| 17 |
Pangeran Lor dan Pangeran Wetan |
|
1562 - 1567 |
| 18 |
Pangeran Keduk I (Raden Keduk) |
|
1567 - 1574 |
| 19 |
Pangeran Lor II (Raden Rajasa) |
Karang Toroy |
1574 - 1589 |
| 20 |
Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro I (Raden Abdullah) |
|
1589 - 1626 |
| 21 |
Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa (Raden Mas Anggadipa) |
|
1626 - 1644 |
| 22 |
Kanjeng R. Tumenggung Ario Jaingpatih |
|
1644 - 1648 |
| 23 |
Kanjeng Pangeran Ario Yudonegoro (Raden Bugan) |
|
1648 - 1672 |
| 24 |
Kanjeng R. Tumenggung Pulang Jiwa dan Kajeng Pangeran Seppo |
|
1672 - 1678 |
| 25 |
Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro II (Pangeran Rama) |
|
1678 - 1709 |
| 26 |
Kanjeng R. Tumenggung Wiromenggolo (Raden Purwonegoro) |
|
1709 - 1721 |
| 27 |
Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro III ( Raden Achmad ) |
|
1721 - 1744 |
| 28 |
Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV ( Raden Alza ) atau adipati Sumenep XXVIII |
|
1744 - 1749 |
| 29 |
Raden Buka (Panglima perang Ke' Lesap) |
|
1749 - 1750 |
| 30 |
Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtanegara dan Kanjeng R. Tumenggung Tirtanegara (Raden. Moh. Saud) |
Pajagalan |
1750 - 1762 |
| 31 |
Panembahan Somala (Kanjeng R. Tumenggung Ario Natakusuma) |
|
1762 - 1811 |
| 32 |
Sultan Abdurrahaman Pakunataningrat I (Kanjeng R. Tumenggung Abdurrahaman) |
|
1811 - 1854 |
| 33 |
Panembahan Natakusuma II (Kanjeng R. Tumenggung Moh. Saleh Natanegara) |
|
1854 - 1879 |
| 34 |
Kanjeng Pangeran Ario Mangkudiningrat (Pangeran Ario Pakunataningrat) |
|
1879 - 1901 |
| 35 |
Kanjeng Pangeran Ario Pratamingkusuma (R. Tumenggung Ario Pratamingkusuma) |
|
1901 - 1926 |
| 36 |
Kanjeng Pangeran Ario Prabuwinata (R. Tumenggung Ario Prabuwinata) |
|
1926 - 1929 |
Perwakilan
DPRD Kabupaten Sumenep hasil
Pemilu 2014 tersusun dari 11
partai politik, dengan perincian sebagai berikut:
Julukan dan Semboyan
Branding Pariwisata Sumenep
Sumenep memiliki semboyan
"Sumekar", akronim dari
"Sumenep Karaton", karena semenjak dahulu wilayah ini terdapat puluhan
Keraton/Istana sebagai pusat pemerintahan sang Adipati. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Sumenep mempunyai
branding wisata "Sumenep The Heart Purity",
julukan tersebut didasarkan pada tingkah pola masyarakatnya yang selalu
menjunjung tinggi tata krama serta keramahan kepada setiap tamunya
maupun kondisi geografis alamnya yang selalu memberikan keramahan dan
kenyamanan bagi setiap wisatawan. Kota Sumenep juga dikenal dengan
sebutan Bumi Sumekar, selain itu beberapa pulau di Sumenep juga ada
julukannya tersendiri, semisal Kepulauan Kapajang untuk gabungan dari
nama Pulau Kangean, Paleat, dan Sepanjang, karena dipulau-pulau inilah
taman-taman laut berupa terumbu karang dan kehidupan laut lainnya
berkembang layaknya
taman nasional Bunaken[3]. Selain itu Pulau
Kangean juga lebih dikenal dengan sebutan Pulau Cukir, karena di wilayah inilah
fauna khas Sumenep berupa
Ayam bekisar banyak dikembangkan. Sekarang hewan unggas ini menjadi maskot Sumenep dan juga
Provinsi Jawa Timur.
Geografi dan administrasi
Luas Wilayah
Luas
Wilayah Kabupaten Sumenep adalah 2.093,457573 km², terdiri dari
pemukiman seluas 179,324696 km², areal hutan seluas 423,958 km², rumput
tanah kosong seluas 14,680877 km² , perkebunan/tegalan/semak
belukar/ladang seluas 1.130,190914 km² , kolam/ pertambakan/air
payau/danau/waduk/rawa seluas 59,07 km² , dan lain-lainnya seluas
63,413086 km² . Untuk luas lautan Kabupaten Sumenep yang potensial
dengan keanekaragaman sumber daya kelautan dan perikanannya seluas +
50.000 km² .
Batas-batas administrasi
Kabupaten Sumenep yang berada diujung timur Pulau Madura merupakan
wilayah yang unik karena terdiri wilayah daratan dengan pulau yang
tersebar berjumlah 126 pulau (
berdasarkan hasil sinkronisasi Luas Wilayah Kabupaten Sumenep ) yang terletak di antara 113°32'54"-116°16'48" Bujur Timur dan di antara 4°55'-7°24' Lintang Selatan.
Jumlah pulau berpenghuni di Kabupaten Sumenep hanya 48 pulau atau
38%, sedangkan pulau yang tidak berpenghuni sebanyak 78 pulau atau 62%.
Pulau Karamian di Kecamatan Masalembu adalah pulau terluar di bagian
utara yang berdekatan dengan Kalimantan Selatan dan jarak tempuhnya +
151 Mil Laut dari Pelabuhan Kalianget, sedangkan Pulau Sakala merupakan
pulau terluar di bagian timur yang berdekatan dengan
Pulau Sulawesi dan jarak tempuhnya dari
Pelabuhan Kalianget + 165 Mil Laut.Pulau yang paling utara adalah
Pulau Karamian dalam gugusan
Kepulauan Masalembu dan pulau yang paling timur adalah
Pulau Sakala.
Perbatasan dengan daerah sekitarnya:
Pembagian administratif Pemerintahan
Adapun wilayah administrasi pemerintahan yang ada di Kabupaten Sumenep tahun 2007, yang terdiri atas :
- Kecamatan : 27
- Kelurahan : 4
- Desa : 328
- Rukun Warga (RW) : 1774
- Rukun Tetangga (RT) : 5569
Daftar kecamatan di Kabupaten Sumenep dapat dilihat pada boks di bagian akhir artikel ini.
Demografi
Kependudukan
Berdasarkan
hasil pencacahan Sensus Pendudukan tahun 2010, Jumlah penduduk
Kabupaten Sumenep sementara adalah 1.041.915 jiwa, yang terdiri atas
495.099 jiwa laki-laki dan 546.816 jiwa perempuan. Dari hasil SP2010
tersebut masih tampak bahwa penyebaran penduduk kabupaten Sumenep masih
bertumpu di Kecamatan Kota Sumenep yaitu sebanyak 70.794 jiwa (6.75 %),
diikuti Kecamatan Pragaan 65.031 jiwa (5.90 %) dan Kecamatan Arjasa
sebanyak 59.701 jiwa (5,73%). Sedangkan Batuan merupakan kecamatan
dengan jumlah penduduk paling sedikit.
Dengan luas wilayah Kabupaten Sumenep sekitar 2.093,47 km² yang
didiami oleh 1.0491.915 jiwa, maka rata2 tingkat kepadatan penduduk Kab
Sumenep adalah sebanyak 498 jiwa/km². Kecamatan yang paling tinggi
tingkat kepadatannya adalah Kec Kota Sumenep yakni 2.543 jiwa/km², dan
yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Kec batuan yakni
446 jiwa/km2.
Sex ratio penduduk Kabupaten Sumenep berdsarkan SP 2010 adalah
sebesar 90,54 yang artinya jumlah penduduk laki2 adalah 9,46 % lebih
sedikit dibandingkan jumlah penduduk perempuan.
Laju Pertumbuhan penduduk Kabupaten Sumenep selama 10 tahun terakhir,
yakni dari tahun 2000-2010 sebesar 0,55%. Laju pertumbuhan penduduk Kec
Sapeken adalah yang tertinggi dibandingkan kec lain di kab sumenep
yakni sebesar 1,60%, dan yang terendah adalah kec Talango sebesar
-0,36%.
Jumlah Rumah Tangga berdasarkan hasil SP 2010 adalah 315.412 RT. Ini
berarti bahwa banyaknya penduduk yang menempati satu rumah tangga dari
hasil SP2010 rata2 sebanyak 3,30 orang. Rata2 anggota RT di setiap kec
berkisar antara 2,48 orang-3,86 orang.
Agama
Agama yang
dianut oleh penduduk Kabupaten Sumenep beragam. Menurut data dari Badan
Pusat Statistik dalam Sensus Penduduk tahun 2010, penganut Islam
berjumlah 1.033.854 jiwa (98,11%), Kristen berjumlah 685 jiwa (0,33%),
Katolik berjumlah 478 jiwa (0,27%), Buddha berjumlah 118 jiwa (0,03%),
Hindu berjumlah 8 jiwa (0,01%), Kong Hu Cu berjumlah 5 jiwa (0,002%).
[4]
Bahasa
Bahasa yang digunakan di Kabupaten Sumenep adalah
bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, dan
bahasa Madura
sebagai bahasa sehari-hari. Selain itu beberapa daerah di Pulau Sapeken
dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, bahasa yang digunakan adalah
bahasa bajo, bahasa Mandar, bahasa Makasar dan beberapa bahasa daerah
yang berasal dari Sulawesi. Untuk Pulau Kangean bahasa yang digunakan
adalah bahasa Madura dialek Kangean.
Iklim
Kabupaten
Sumenep termasuk dalam kategori daerah tropis. Seperti daerah lain di
Indonesia, musim hujan di Sumenep dimulai bulan Oktober hingga Maret,
dan musim kemarau bulan April hingga September. Rata-rata curah hujan di
Sumenep adalah 1.479 mm. Berdasarkan data tahun 2011 Temperatur Suhu
udara di Sumenep tertinggi terjadi di bulan September - Nopember
(31,7 °C). Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu
rata-rata 30 derajat Celsius. Jumlah curah hujan terbanyak terjadi di
bulan Desember. Rata-rata penyinaran matahari terlama di bulan Agustus
dan terendah di bulan Februari. Sedangkan Kecepatan angin di bulan Juli
merupakan yang tertinggi dan terendah di bulan Maret.
[5]
Pendidikan
Siswa HIS Sumenep pada tahun 1934
Bidang Pendidikan di Sumenep telah berkembang sejak zaman Penjajahan Hindia Belanda, di wilayah ini pernah berdiri sekolah
HIS
(Hollandsch-Inlandsche School) tahun 1901an yang terletak di daerah
Pajagalan. Selain itu Pada tanggal 31 Agustus 1931 di daerah ini juga
pernah berdiri sekolah setara HIS yakni
HIS Partikelir (PHIS) Sumekar Pangabru yang terletak di daerah Karembangan tak jauh dari sekolah HIS milik pemerintah Hindia Belanda. PHIS didirikan oleh Meneer
Muhammad Saleh Werdisastro, putra dari budayawan dan sejarawan Madura, R. Musaid Werdisastro penulis "
babad Songenep".
Saat ini, di Sumenep tercatat ada 70 Sekolah Menengah Atas baik Negeri
Maupun Swasta dan Madrasah Aliyah serta 2 sekolah Menengah kejuruan.
[6].
Selain pendidikan umum tsb, Pendidikan Pesantren juga hampir terdapat
diseluruh penjuru Sumenep, beberapa pondok pesantren besar yang terkenal
antara lain, PP. Annuqayyah Guluk-Guluk, PP. Al-Amien Prenduan, PP.
Mathaliul Anwar Sumenep, PP Al-Karimiyah, PP At-Taufiqiyah Aengbaja
Raja, dsb.
Daftar Perguruan Tinggi di Sumenep :
Kesehatan
Infrastruktur
pelayanan kesehatan di Sumenep semuanya di layani di pusat-pusat
kesehatan masyarakat yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan.
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, di wilayah ini tercatat
ada 30 Puskesmas yang tersebar di 27 Kecamatan dibantu oleh puskesmas
pembantu sebanyak 71 unit, Poskesdes (Pos Kesehatan desa) sebanyak 231
unit dan Polindes lebih dari 200 unit. Sarana Kesehatan yang lain adalah
tersedianya Rumah Sakit di Sumenep sebanyak 5 unit, 1 di antaranya
masih dalam tahap pembangunan. Rumah Sakit yang tersebar di Sumenep
terdiri dari rumah sakit untuk umum dan rumah sakit bersalin. Pada tahun
2011 lalu untuk memberikan pelayanan lebih bagi warga Pulau Arjasa dan
Sekitarnya, Dinkes Sumenep menaikkan Status Puskesmas Arjasa menjadi
Rumah Sakit tipe D.
Daftar Rumah Sakit di Sumenep :
- RSUD dr. Moh. Anwar
- RSI Garam Medical Center ( RS Mardi Waluyo ) Kalianget
- RSI Al-amin, Prenduan ( tahap pembangunan )
- RS Bersalin Esto Ebhu
- RS Bersalin Sumekar
Perekonomian
Sumber Daya Alam
- Sumber Daya Mineral di kabupaten Sumenep cukup
bervariatif. terdiri dari jenis bahan galian golongan C antara lain:
pospat, batu gamping, calsit/batu bintang, gipsum, pasir kuarsa,
dolomite, batu lempung dan kaolin.
- Sumber Daya Energi
Kabupaten Sumenep selain memiliki potensi kekayaan alam berupa bahan
galian golongan C, juga memiliki bahan tambang strategis berupa golongan
A yang terletak di Pulau Pagerungan Besar Pulau Sepanjang Kecamatan
Sapeken, Perairan Pulau Giligenting. Berdasarkan perjalanan waktu selain
di tiga Pulau tersebut masih ada beberapa tempat yang terindikasi
mengandung gas dan minyak bumi. Di antaranya sekitar Pulau Masalembu,
Perairan Kalianget, Perairan Pulau Raas dan Blok Kangean. Setidaknya ada
10 perusahaan operator Migas yang mengelola beberapa blok migas di
wilayah ini
[7].
Berdasarkan aspek geomorfologi, sumber daya air di Kabupaten Sumenep
terbagi di 4 (empat) satuan wilayah: a). Daerah Dataran b). Daerah
Perbukitan Bergelombang Halus c). Daerah Perbukitan Bergelombang Kasar
d). Daerah Perbukitan yang Terpisah
Pertanian
Hamparan Sawah di Sumenep
Berdasarkan data Tahun 2010 luas lahan sawah di Kabupaten Sumenep
23.852 Ha, terbagi menjadi 13.388 Ha (56,13 %) lahan sawah tadah hujan,
5.385 Ha (22,57 %) lahan berpengairan teknis, 1.959 Ha lahan semi
teknis, 1.071 Ha lahan sederhana dan 2.049 Ha lahan memakai irigasi
desa. Penggunaan lahan khususnya lahan bukan sawah meliputi pekarangan,
tegal, perkebunan, ladang, huma, padang rumput, lahan sementara tidak
diusahakan, hutan rakyat, hutan negara, rawa-rawa, tambak, kolam dll.
Tanaman pangan dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu komoditas
beras (padi sawah dan padi gogo) dan komoditas palawija (jagung,
kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ketela pohon dan ketela rambat).
Komoditas sayur mayur yang diusahakan oleh masyarakat petani di
Kabupaten Sumenep pada Tahun 2008 berdasarkan data dari BPS (Sumber :
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep) terbanyak adalah
bawang merah dengan jumlah produksi 18.117,1 Kw mengalami penurunan
jumlah produksi sebesar 64.42 % dari tahun sebelumnya. Lombok pada tahun
2008 merupakan komoditas terbanyak, pada tahun 2009 mengalami penurunan
sebesar 89.28 % dari tahu sebelumnya. Sedangkan perubahan jumlah
produksi komoditas sayur mayur yang lain seperti : kacang panjang,
mentimun, terong, kangkung, bayam dan tomat tidak terlalu signifikan.
Untuk komoditas buah-buahan jumlah produksinya cukup bervariatif. Buah
mangga dengan jumlah produksi 652.401 Kw merupakan komoditas buah
tertinggi baik dari segi jumlah produksinya yaitu sebesar Rp.
127.218.195.000,-. Untuk komoditas buah lain seperti : pisang, pepaya,
jeruk, jambu biji, rambutan, sawo, blimbing, salak dan avokad sangat
beravariatif.
- Komoditas Perkebunan dan Kehutanan
Berdasarkan data statistik Tahun 2010 (
Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sumenep dan Perum Perhutani KPH Madura di Pamekasan),
hasil produksi komoditas perkebunan dan kehutanan di Kabupaten Sumenep
sangat bervariatif. Untuk produksi tanaman perkebunan rakyat, jumlah
produksi tertinggi adalah kelapa yaitu 35.068,66 ton dengan luas lahan
50.059,06 Ha. Sedangkan untuk produksi tembakau sebagai komoditas
primadona bagi petani Kabupaten Sumenep pada khususnya secara kuantitas
mengalami penurunan sebesar 39,10 % dari tahun sebelumnya.
Tanaman tembakau
sebagai komoditas favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat mengubah
perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani tembakau.
Luas lahan tembakau pada tahun 2010 10.377,94 Ha, dengan jumlah produksi
sebanyak 2,917.62 Ton.
Perikanan
Berdasarkan
estimasi produksi, potensi sumber daya ikan di perairan laut Kabupaten
Sumenep mampu menghasilkan per tahun sebesar 22.000 ton per tahun.
Sedangkan menurut estimasi potensi sumber lestari dihitung 60 % dari
jumlah potensi yang ada atau 137.400 ton per tahun. Perkembangan
produksi perikanan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani
nelayan melalui peningkatan produksi dan produktivitas usaha yang
berorientasi pada agrobisnis. Produksi perikanan yang dicapai kabupaten
Sumenep pada tahun 2009 untuk perikanan laut mencapai 44.900,2 ton per
tahun atau 32,68 % dari potensi lestari (mengalami peningkatan sebesar
10.09 % dari tahun sebelumya) dengan nilai produksi Rp.
169.553.210.000,-.
Peternakan
Populasi
ternak besar di Kabupaten Sumenep terbesar dan spesifik adalah ternak
sapi. Terbukti pada tahun 2011 populasi sapi sekitar 357.067 ekor
[8],
yang masih dikelola secara tradisional (ternak kerja, penghasil pupuk
kandang, kegemaran dan tabungan) sebagai sub komponen usaha tani.
Keunggulan sapi madura khususnya sapi Sumenep dengan daerah-daerah lain di Pulau Madura jenisnya adalah sama yaitu :
- Tahan terhadap penyakit spesifik, mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap kondisi alam yang kurang baik.
- Mempunyai respon yang baik terhadap perbaikan pakan melalui
peningkatan protein maupun energi pakan yang ditujukan dengan
pertimbangan bobot badan optimal.
- Mempunyai tipe sapi potong dan kualitas daging yang baik.
Saat ini, Sumenep merupakan wilayah sentra pengembangan Sapi Nasional
di Pulau Madura, Jawa Timur. Sejak zaman Belanda, Madura merupakan
sentra sapi nasional. Bahkan Pulau Sapudi di Sumenep, menurut buku
Peduli Peternakan Rakyat karya Sofyan Sudrajat, merupakan kawasan sapi
terpadat di dunia.
[9]
Populasi ternak kedua yang banyak dipelihara oleh masyarakat Sumenep
khususnya masyarakat kepulauan di Kecamatan Arjasa dan Sapeken adalah
ternak kerbau. Di daratan hanya terdapat di Kecamatan Kalianget. Jumlah
ternak kerbau adalah 6.926 ekor. Populasi ternak ketiga adalah ternak
kuda yang berjumlah 3.357 ekor.
Populasi ternak kecil yang banyak dipelihara di Kabupaten Sumenep
adalah kambing berjumlah 113.224 ekor dan domba berjumlah 25.123 ekor.
Sedangkan ternak unggas tercatat ayam ras berjumlah 235.584 ekor; ayam
kampung 741.131 ekor dan itik 42.417 ekor.
Infrastruktur
Transportasi
Karena letak geografis Kabupaten Sumenep yang terletak di ujung timur
Madura dan letaknya yang begitu strategis (dekat dengan pulau Bali)
maka untuk menuju wilayah Kebupaten Sumenep disediakan beberapa
fasilitas untuk menunjang lancarnya moda transportasi, antara lain :
- Terminal Bus Arya Wiraraja - merupakan terminal bus tipe A terbesar
di Sumenep melayani seluruh penumpang dari luar daerah Sumenep.
- Pelabuhan Kalianget
- Merupakan sarana transportasi laut yang melayani penumpang dari
daratan Sumenep ke wilayah Kepulauan maupun sebaliknya, selain itu juga
pelabuhan kalianget melayani jalur transportasi laut Kalianget -
Jangkar, Situbondo.
- Bandar Udara Trunojoyo
Sumenep - Merupakan Bandara yang berdiri pada tahun 1970an, yang saat
ini dalam tahap pengembangan, dan direncanakan pula bahwa pada tahun
2012 mendatang Bandara ini akan beroprasi untuk penerbangan komersil.[10]
Sarana
Listrik
Untuk menunjang kebutuhan kelistrikan di Sumenep, Travo Listrik yang
di kelola oleh PLN PJU Sumenep saat ini sebesar 150 kV dengan Kapasitas
60 MVA. Untuk mengurangi perimintaan daerah-daerah yang belum teraliri
Listrik PLN, Pemerintah daerah juga memberikan bantuan berupa pembangkit
Listrik Tenaga Surya bagi daerah pesisir dan kepulauan Sumenep.
[11]
Telekomunikasi
Saat ini akses telekomukasi yang dikelola oleh PT Telkom Sumenep
untuk memberikan layanan kepada masyarakat Sumenep, jaringan telkom saat
ini berkapasitas 3.633 SST.
Kantor Pos
Untuk menunjang kebutuhan pengriman barang atau paket di Sumenep
telah berdiri Kantor Pos Indonesia yang tersebar di beberapa wilayah
kecamatan, Jumlah Kantor Pos di Sumenep saat ini telah berjumlah 16
unit, baik di daratan maupun di beberapa daerah kepulauan Sumenep.
Layanan Publik
Bank dan ATM
Industri perbakan di Kabupaten Sumenep sebagian besar beroprasi di
Jalan Trunojoyo Sumenep, di jalan utama inilah bank-bank nasional dan
daerah membuka kantornya. Bank yang ada di wilayah ini antara lain :
Hotel
Sebagai daerah destinasi utama wisata Pulau Madura, di Sumenep,
hotel-hotel mulai dibangun. menurut data PHRI Jawa Timur Hotel di
Sumenep berjumlah 13 unit.
[12] Secara keseluruhan lokasinya berpusat di
Kota Sumenep dan
Kalianget.
Daftar Hotel di Sumenep
- Hotel Wijaya I
- Hotel Wijaya II
- Safari Jaya Hotel
- Garuda Hotel
- Sumekar Hotel
- Hotel Utami Sumekar
- Hotel Suramadu
- Mitraland Hotel
- Hotel Family Nur
- C-1 Hotel
- Apel Hotel
- Dreamland Hotel
- Musdalifah Hotel and Resort
Pariwisata
Pariwisata
merupakan salah satu potensi unggulan di Kabupaten Sumenep. Ada
beberapa jenis potensi wisata, yang dapat dikelompokkan menjadi:
Wisata Sejarah, Budaya dan Arsitektur
Labhang Mesem Karaton Songenep
- Museum Keraton Sumenep
merupakan museum yang dikelola oleh pemerintah daerah Sumenep yang di
dalamnya menyimpan berbagai koleksi benda-benda cagar budaya peninggalan
keluarga Karaton Sumenep dan beberapa peninggalan masa kerajaan hindu
budha seperti arca Wisnu dan Lingga yang ditemukan di Kecamatan Dungkek.
Di dalam museum terdapat juga beberapa koleksi pusaka peninggalan
Bangsawan Sumenep seperti guci keramik dari Cina dan Kareta My Lord
pemberian Kerajaan Inggris kepada Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat
I atas jasanya yang telah banyak membantu Thomas Stamford Raffles salah
seorang Gubenur Inggris dalam penelitian yang dilakukannya di
Indonesia.
- Keraton Sumenep
merupakan peninggalan pusaka Sumenep yang dibangun oleh Raja/Adipati
Sumenep XXXI, Panembahan Sumolo Asirudin Pakunataningrat dan diperluas
oleh keturunannya yaitu Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.
Karaton Sumenep sendiri letaknya tepat berada di depan Museum Karaton
Sumenep,
- Masjid Jamik Sumenep
merupakan bangunan yang mempunyai arsitektur yang khas, memadukan
berbagai kebudayaan menjadi bentuk yang unik dan megah, dibangun oleh
Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat yang memerintah pada tahun
1762-1811 M dengan arsitek berkebangsaan tionghoa "law pia ngho"
- Kota Tua Kalianget
letaknya di sebelah timur kota Sumenep, disini para pengunjung bisa
melihat peninggalan-peninggalan Pabrik garam, Arsitektur Kolonial dan
beberapa daerah pertahanan yang dibangun Oleh Pemerintahan Kolonial saat
menjajah wilayah Sumenep,
- Rumah Adat Tradisional Madura Tanean Lanjhang , bisa ditemui di beberapa daerah menuju pantai lombang maupun menuju pantai slopeng,
- Benteng VOC Kalimo'ok di Kalianget.
Wisata Religi/Ziarah
- Asta Karang Sabu merupakan kompleks pemakaman keluarga Raja /
Adipati Sumenep yang memerintah pada abad 15 yaitu Pangeran Ario
kanduruan, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. di daerah karang sabu inilah
dia memimpin pemerintah Sumenep pada saat itu.
- Kompleks pemakaman Asta Tinggi Sumenep
merupakan kompleks pemakaman Raja-Raja Sumenep yang dibangun pada tahun
1644 M. terletak di daerah dataran Tinggi Kebon Agung Sumenep.
- Asta Yusuf merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Pulau
Talango, makam tersebut ditemukan oleh Sri Sultan Abdurrahman
Pakunataningrat ketika betolak menuju Bali pada tahun 1212 hijriah
(1791),
- Asta Katandur merupakan salah satu makam penyebar agama islam di
Sumenep, Pangeran Katandur yang juga salah satu tokoh yang ahli dalam
bidang pertanian dan menurut berbagai sumber, Pangeran Katandur juga
merupakan pencipta tradisi kerapan sapi,
- Makam Pangeran Panembahan Joharsari yang merupakan salah satu Adipati Sumenep V yang pertama kali memeluk Agama islam di Bluto,
Wisata Alam
Hutan Cemara udang di sepanjang bibir Pantai Utara Sumenep sepanjang 30 km, menambah suasana indahnya Bumi Sumekar
- Pantai Lombang
adalah pantai dengan hamparan pasir putih dan gugusan tanaman cemara
udang yang tumbuh di areal tepi dan sekitar pantai. Suasananya sangat
teduh dan indah sekali. Pantai Lombang adalah satu-satunya pantai di
Indonesia yang ditumbuhi pohon cemara udang,
- Pantai Slopeng
adalah pantai dengan hamparan gunung pasir putih yang mengelilingi sisi
pantai sepanjang hampir 6 km. Kawasan pantai ini sangat cocok untuk
mancing ria karena areal lautnya kaya akan beragam jenis ikan, termasuk
jenis ikan tongkol,
- Pantai Ponjug di Pulau Talango,
- Pantai Badur di Kecamatan Batu Putih,
- Taman Air Kiermata di Kecamatan Saronggi,
- Goa Jeruk Asta Tinggi Sumenep,
- Goa Kuning di Kecamatan Kangean,
- Goa Payudan di Kecamatan Guluk-Guluk,
Wisata Bahari/Laut
- Kepulauan Kangean
dan sekitarnya merupakan gugusan kepulauan Kabupaten Sumenep yang
letaknya berada di wilayah ujung timur Pulau Madura. Mempunyai banyak
pantai yang eksotik,
- Wisata Taman Laut Mamburit Pulau Arjasa
- Wisata Taman Laut Gililabak Pulau Talango
- Pantai Pasir Putih dan Terumbu Karang Pulau Saor (Kecamatan Sapeken)
- Pantai pasir putih, taman mangrove/ bakau dan wisata taman laut takat Pulau pajangan (kecamatan nonggunong)
Wisata Konservasi
- Ayam bekisar, ayam bekisar adalah ayam khas Sumenep yang banyak dibudidayakan untuk peliharaan di Pulau Kangean.
- Kijang, merupakan hewan penghuni hutan di daerah Arjasa. Jenis hewan ini termasuk hewan yang dilindungi.
- Cemara Udang,
merupakan satu jenis spesies cemara yang hanya ada di Kabupaten Sumenep
dan di Pesisir Pantai Negeri China. Pohon cemara ini banyak
dibudidayakan oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Batang-Batang dan
Kecamatan Dungkek, tak jauh dari lokai wisata Pantai Lombang.
- Taman laut takat pajangan
merupakan taman bawah laut pulau pajangan yang terletak di sebelah
utara pantai pulau pajangan. terumbu karangnya yang luas dan jenis
terumbu karangnya yang sangat banyak hampir menyerupai taman nasional
bunaken di manado
Wisata Minat Khusus
- Tirta Sumekar Indah merupakan salah satu kompleks pemandian kolam
renang yang ada di Sumenep, letaknya berada di kecamatan Batuan, sebelah
barat kota Sumenep. Letaknya yang strategis, dikelilingi Perkebunan
Pohon Jati dan Jambu Mente serta tak jauh dari wisata kompleks pemakaman
Asta Tinggi membuat pemandian ini banyak di kunjungi warga saat akhir
pekan dan liburan sekolah,
- Water Park Sumekar, merupakan wisata air yang terletak tak jauh di
belakang lokasi Wisata kompleks Asta Tinggi, kondisi bangunannya yang
terletak dilerang bukit Kasengan sangat menambah suasana alami di
kawasan ini,
- Alun-Alun Sumenep sekarang menjadi taman Adipura, setiap harinya
khususnya pada malam hari dibangian utara Alun-Alun Sumenep ini terdapat
pasar malam dengan menyajikan berbagai macam kuliner dan accesories
yang bisa dinikmati dengan harga yang murah.
- Wisata kesehatan di Pulau Giliyang Kecamatan Dungkek merupakan
daerah di kabupaten Sumenep yang mempunyai kandungan O2/oksigen sebesar
21,5% atau 215.000 ppm.[13]
- Kota tua Kalianget merupakan wisata kota tua bekas peninggalan masa
kolonial Belanda, hingga saat ini masih bisa dinikmati berupa bekas
pabrik, bekas bioskop, bekas kolam renang dan bekas gereja tua.
- Nambakor merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Saronggi, desa ini merupakan penghasil garam dan penghasil ikan budidaya tambak.
Seni, Budaya, Kuliner Khas dan Even Wisata
Seni Tari
Seni Musik
Seni Kriya
- Batik Tulis Sumenep , sentra batik tulis di Sumenep terdapat di desa Pakandangan Barat Kecamatan Bluto,
- Keris, sentra pembuatan senjata keris di Sumenep terdapat di desa Aeng tong tong dan desa desa Palongan Kecamatan Bluto,
- Sentra Ukiran Sumenep Madura terdapat di desa Karduluk,
- Sentra pembuatan Perahu Madura terdapat di desa Slopeng dan Pulau Sapudi,
- Sentra Pembuatan Topeng Madura
Budaya
Makan dan Minuman Khas
- Rujak Cingur Sumenep
- Kaldu Kokot
- Kalsot (kaldu soto)
- Lontong Campor
- Apen Parsanga
- Soto Madura
- Sate Madura
- Man reman
- Macho
- Pattola
- Mento
- Nasi Jagung Kuah Maronggi ( daun kelor )
- Kripik Singkong
- Jubada
- Rengginang Lorjuk
- Pokak Saripah
Event Wisata
Maskot
Fauna Identitas Kabupaten Sumenep adalah
Ayam bekisar
yang berasal dari Pulau Kangean. Fauna ini tak hanya menjadi identitas
daerah Sumenep namun juga menjadi identitas Provinsi Jawa Timur. Selain
mempunyai fauna khas, Sumenep juga mempunyai flora khas yaitu Pohon
Cemara Udang yang tumbuh subur di lokasi wisata
Pantai Lombang. Saat ini pohon cemara udang termasuk salah satu flora yang dilindungi oleh UU dan Perda Kab. Sumenep
[14]
Ragam Hal
Media
- RRI Sumenep
- Radio Nada Fm
- Radio Gema Sumekar
- Radio Gita Fm
- Faradis FM
- Rama Fm
- Radio Andhina FM
- Risky Fm
- Madu Fm
- Nusa Fm
- Kabar Madura
- Radar Sumenep (Radar Madura| Jawa Pos Grup)
- Info Sumenep
- TV SIS (Televisi Syiar Islam Sumenep )
- S3TV (Swara Sumenep Sumekar Televisi )
- Madura Channel TV
- JTV Madura
- Sorotpublik.com (Media Online)
Musisi dan Hiburan
Dalam dunia Hiburan dan musisi tanah air ternyata tak sedikit juga
kalangan artis dari Sumenep, Madura. di antaranya ada Pelawak kocak,
presenter sekaligus aktor Ferrasta Soebardi atau lebih dikenal dengan
nama
Pepeng
. disamping itu ada juga artis cilik yaitu Randy Martin salah satu
tokoh pemeran si Pitung di sinetron Pitung The Master dan Sayef Muhammad
Billah yang memerankan tokoh Arif dalam film layar lebar
Semesta Mendukung. selain aktor-aktor tersebut juga ada musisi dangdut, Imam S Arifin dan Yus Yunus.
Tokoh
- Arya Wiraraja, Otak pendiri kerajaan Majapahit
- Halim Perdanakusuma, Pahlawan Nasional Indonesia
- Muhammad Saleh Werdisastro, Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Yogyakarta yang pertama dan Walikota Surakarta tahun 1951-1958
- M.A. Rachman, Mantan Jaksa Agung RI Kabinet Gotong Royong
- Prof. Abdul Hadi WM, Guru Besar Filsafat Univ. Paramadina, Budayawan
- Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc.,Ph.D., Ahli Botani Indonesia
- D. Zawawi Imron, Sastrawan/Penyair Nasional
- DR. A. Latif Wiyata, Dosen Fisip UNEJ dan kepala lembaga Pusat Kajian Madura UNEJ
- Edhi Setiawan, SH, Budayawan Madura
- Achsanul Qasasi, Manager Persepam - Madura United (P-MU) dan Direktur Pojur Madura
- Said Abdullah,
Anggota DPR dari PDI Perjuangan periode 2009-2014 dan duduk di Komisi
VIII DPR RI yang membidangi agama, sosial dan pemberdayaan perempuan.
- Siswandi, Kepala Seksi Pemeriksaan KPP Pratama Pamekasan.
Olahraga
Olahraga
ungulan yang sedang diminati oleh masyarakat Sumenep saat ini adalah
cabang olahraga bola volly. Saat ini di Sumenep tercatat ada 442 klub,
terdiri dari 328 klub putera dan 114 klub puteri, sehingga pada tahun
2005 lalu masuk dalam catatan
MURI[15]
sebagai klub bola volly terbanyak se-Indonesia. Selain olahraga bola
volly, olahraga tradisional balbudih juga sering dimainkan oleh
pemuda-pemuda di lapangan kecamatan. Olahraga tradisional ini hampir
berkembang diseluruh masyarakat pedesaan di Sumenep. Olahraga ini
dimainkan secara beregu
[16].
Selain dua olahraga di atas, olahraga futsal, sepak bola, badminton,
bola tennis, bela diri juga diminati oleh masyarakat Sumenep. Klub Sepak
Bola dari kabupaten ini adalah
Perssu Sumenep FC
Daftar Pustaka
- Huub de Jonge.1989.Madura dalam empat zaman: pedagang, perkembangan
ekonomi, dan Islam : suatu studi antropologi ekonomi. PT. Gramedia.
- Werdisastra (raden.).1996.Babad Sumenep.Universitas Michigan : Garoeda Buana Indah.
- Hélène Bouvier. 2002. Lèbur: seni musik dan pertunjukan dalam masyarakat Madura. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 979-461-420-3, 9789794614204
- Zulkarnaen, Iskandar. 2003. Sejarah Sumenep. Sumenep: Dinas Pariwisata dan kebudayaan kabupaten Sumenep.
- Abdurrahchman, Drs.1971.Sejarah Madura Selajang Pandang. Sumenep.
- Justine Vaisutis. 2007.Indonesia. Lonely Planet. ISBN 1-74104-435-9
- Soebrata Sastro, Raden.1920.Perjalanan dari Soengenep ka Batawi. Balai Pustaka.
- Sejarah Perjuangan Rakyat Sumenep 1945-1950
Wacana pemekaran daerah
Kabupaten Kepulauan Kagean
Ada 11 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Kagean
Kota Sumenep
Ada 7 kecamatan di kota Sumenep
Provinsi Madura
Beberapa Kabupaten/Kota yang membentuk Provinsi baru ini meliputi :
- Kabupaten Sampang
- Kabupaten Bangkalan
- Kabupaten Pamekasan
- Kabupaten Sumenep
- Kota Sumenep
- Kabupaten Kepulauan Kagean
Referensi
Pranala luar
| [sembunyikan]
|
|
|
|
|
| Politik & Pemerintahan |
|
|
|
| Sejarah |
|
|
| Lokasi terkenal |
|
|
| Transportasi |
|
|
| Seni & Budaya |
|
|
| Pendidikan |
|
|
| Tempat ibadah |
|
|
| Media |
|
|
| Kecamatan |
|
|